JAKARTA - Di tengah dinamika geopolitik dunia yang kian memanas dan memberikan tekanan pada arus perdagangan internasional, Kementerian Ekonomi Kreatif mengambil langkah proaktif untuk melindungi serta mengembangkan sektor domestik.
Pemerintah kini tengah gencar mendorong para pengusaha muda untuk memperkuat infrastruktur hilirisasi produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Strategi ini bertujuan agar produk lokal tidak hanya berdaya saing di dalam negeri, tetapi juga memiliki nilai tawar tinggi untuk menembus pasar internasional.
Sektor ekonomi kreatif dinilai memiliki ketahanan (resilience) yang luar biasa terhadap gejolak ekonomi maupun politik global. Hal ini disebabkan oleh karakteristik utamanya yang berbasis pada kreativitas manusia, sehingga mampu menciptakan pasar khusus (niche market) dengan nilai tambah yang signifikan.
Apresiasi Terhadap Jejaring Pengusaha Muda Sebagai Inkubasi Ekspor
Kementerian Ekonomi Kreatif memberikan apresiasi tinggi terhadap terbentuknya jejaring internasional yang diinisiasi oleh para pengusaha muda lintas negara. Kolaborasi ini dianggap sebagai wadah inkubasi yang sangat efektif untuk mempercepat penetrasi produk lokal ke mancanegara sekaligus menarik minat investasi asing.
Deputi Bidang Pengembangan Strategis Kementerian Ekonomi Kreatif, Cecep Rukendi, menekankan pentingnya konektivitas global dalam membangun ekosistem usaha yang tangguh. “Kita tentunya sangat apresiatif dengan aktivitas jejaring generasi muda Indonesia yang berorientasi internasional, dan ini seperti inkubasi untuk ekspor maupun investasi,”. Hadirnya perwakilan pengusaha dari tingkat Asia Pasifik hingga level global menjadi sinyal positif bagi penguatan posisi ekonomi kreatif Indonesia di mata dunia.
Tujuh Belas Subsektor Ekonomi Kreatif Sebagai Mesin Pertumbuhan
Pemerintah telah memetakan terdapat 17 subsektor ekonomi kreatif yang memiliki potensi raksasa untuk diekspor. Subsektor ini mencakup berbagai bidang, mulai dari aplikasi, desain produk, kriya, hingga kuliner dan fasyen. Fokus pengembangan saat ini adalah memastikan setiap subsektor mampu melakukan hilirisasi, sehingga produk yang dikirim ke luar negeri bukan lagi bahan mentah, melainkan produk jadi yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Melalui integrasi kreativitas dan teknologi, ke-17 subsektor ini diharapkan dapat menjadi infrastruktur ekonomi baru yang lebih stabil. Sektor kreatif terbukti lebih mampu beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi dunia dibandingkan sektor komoditas tradisional yang sangat bergantung pada fluktuasi harga pasar global.
Kolaborasi Pemerintah Dan Komunitas Hadapi Ketidakpastian Ekonomi
Menghadapi ketidakpastian ekonomi global tahun 2026, sinergi antara pemerintah sebagai regulator dan komunitas pengusaha muda sebagai pelaku lapangan menjadi kunci utama. Pemerintah berkomitmen untuk terus memfasilitasi kemudahan akses pasar dan pendampingan strategis agar UMKM Indonesia naik kelas.
Target akhirnya adalah menjadikan UMKM dan ekonomi kreatif sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan memperkuat jejaring internasional dan fokus pada kualitas produk hilirisasi, Indonesia optimis dapat mencetak eksportir-eksportir muda baru yang mampu membawa identitas budaya dan kreativitas lokal ke panggung dunia, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri.