Allo Bank Menyikapi Perlambatan BNPL Industri Perbankan dengan Strategi Pertumbuhan Selektif dan Berkelanjutan

Rabu, 04 Februari 2026 | 09:31:25 WIB
Allo Bank Menyikapi Perlambatan BNPL Industri Perbankan dengan Strategi Pertumbuhan Selektif dan Berkelanjutan

JAKARTA - PT Allo Bank Indonesia Tbk mencermati perlambatan pertumbuhan buy now pay later (BNPL) di industri perbankan menjelang akhir 2025 sebagai fase normalisasi yang sehat. Perusahaan menilai situasi ini justru memberikan ruang untuk menjaga kualitas portofolio dan memperkuat strategi jangka panjang.

Perlambatan BNPL Industri Perbankan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat baki debet kredit BNPL industri perbankan mencapai Rp 26,20 triliun hingga November 2025. Angka ini menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 20,34%, sementara jumlah rekening mencapai 31,47 juta rekening.

Meski pertumbuhan masih positif, laju ekspansi memang cenderung melambat dibanding Juli 2025 yang mencapai 33,56% secara tahunan. Perlambatan ini dianggap sebagai fase konsolidasi yang wajar dalam siklus industri BNPL.

Kualitas Portofolio BNPL Allo Bank Tetap Terjaga

Di tengah tren perlambatan, Allo Bank mencatat pertumbuhan portofolio BNPL yang solid dengan kualitas aset tetap terjaga. Digital Strategy Head Allo Bank, Destya D. Pradityo, menyampaikan bahwa baki debet BNPL Allo Bank tetap tumbuh double digit secara tahunan hingga akhir 2025.

Jumlah pengguna aktif BNPL juga meningkat dibanding tahun sebelumnya, menegaskan relevansi produk untuk segmen ritel dan ekosistem merchant Allo Bank. “Kami tidak semata-mata mengejar volume. Fokus kami adalah kualitas pengguna dan utilisasi yang berkelanjutan,” kata Destya.

Destya menekankan bahwa perlambatan industri justru menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi dan mengantisipasi risiko. Strategi selektif ini memastikan ekspansi dilakukan dengan kontrol risiko yang disiplin dan terukur.

Pendekatan Manajemen Risiko dan Strategi Ekspansi Selektif

Dari sisi kualitas kredit, portofolio BNPL Allo Bank tetap berada dalam koridor risiko prudent. Tren non-performing loan (NPL) stabil di kisaran 2%, sejalan dengan tren industri perbankan nasional.

Keberhasilan menjaga kualitas BNPL didukung oleh beberapa faktor, antara lain underwriting berbasis data dan perilaku transaksi, pengelolaan limit konservatif untuk pengguna baru, serta penerapan early warning system dan digital collection. Pendekatan ini mencegah potensi pemburukan kualitas kredit sejak dini.

Segmentasi nasabah yang lebih presisi membuat ekspansi difokuskan pada profil risiko terukur. “Keberhasilan menjaga kualitas BNPL sangat bergantung pada disiplin ekspansi. Kami memilih tumbuh secara selektif dibanding agresif tanpa kontrol risiko,” ujar Destya.

Prospek BNPL dan Strategi Pertumbuhan 2026

Memasuki 2026, Allo Bank masih menilai BNPL sebagai salah satu motor pertumbuhan kredit ritel digital. Perubahan perilaku konsumen yang semakin mengandalkan pembiayaan jangka pendek fleksibel membuat BNPL tetap relevan.

Namun, strategi pertumbuhan akan lebih matang dibanding fase awal ekspansi industri. Allo Bank menargetkan pertumbuhan BNPL tetap double digit, di atas rata-rata industri, dengan fokus pada keberlanjutan dan risk-adjusted return yang sehat.

Strategi pertumbuhan mencakup pendalaman integrasi dengan ekosistem merchant, personalisasi limit berbasis data dan kecerdasan buatan (AI), serta cross-selling dari nasabah tabungan aktif. Penguatan manajemen risiko dan digital collection juga menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang.

Dengan pendekatan selektif, Allo Bank memastikan BNPL tidak hanya mendorong pertumbuhan volume, tetapi juga kualitas dan stabilitas portofolio. Strategi ini diharapkan mendukung pertumbuhan kredit ritel digital secara berkelanjutan dan memperkuat posisi Allo Bank di industri perbankan.

Terkini