JAKARTA - PT PLN (Persero) secara resmi telah menuntaskan relokasi strategis Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV jalur Bireuen-Takengon. Langkah ini diambil sebagai tindakan preventif untuk menghindari risiko robohnya menara akibat ancaman longsor di wilayah Kabupaten Aceh Tengah.
Proses pemindahan infrastruktur vital ini difokuskan pada Tower Nomor 76 yang berlokasi di Desa Pondok Balik. Upaya relokasi ini menjadi prioritas utama guna memastikan kestabilan pasokan listrik bagi masyarakat di dataran tinggi Gayo, meski berada di kawasan rawan bencana alam.
Detail Teknis dan Efisiensi Pengerjaan
Manajer Komunikasi dan TJSL PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh, Lukman Hakim, menjelaskan bahwa pemindahan infrastruktur ini berjalan sangat efektif dan melampaui target waktu yang ditetapkan.
Jarak Relokasi: Menara dipindahkan sejauh 150 meter dari titik awal yang dinilai rawan longsor.
Waktu Pengerjaan: Proses relokasi dilakukan pada Sabtu (31 Januari 2026). Kerja keras tim teknis di lapangan membuat pengerjaan rampung dua jam lebih cepat dari estimasi semula.
Metode: PLN menggunakan menara atau tower darurat untuk mempercepat pengalihan jalur transmisi sehingga keandalan sistem tetap terjaga dalam jangka panjang.
Manajemen Beban Selama Proses Relokasi
Selama tahapan krusial pemindahan jaringan, PLN terpaksa menerapkan manajemen beban atau pemadaman sementara guna menjamin keselamatan tim teknis di lapangan.
Wilayah Terdampak: Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah.
Jadwal Awal: Sabtu (31 Januari) dan Minggu (1 Februari) mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.
Hasil: Berkat cuaca yang mendukung dan intensitas kerja tim yang maksimal, pemulihan listrik di kedua kabupaten tersebut dapat dilakukan lebih cepat dari jadwal semula tanpa hambatan teknis yang berarti.
Komitmen Keandalan Pasokan Listrik
Langkah relokasi ini merupakan bagian dari strategi besar PLN UID Aceh dalam menghadapi tantangan geografis dan potensi bencana di wilayah Provinsi Aceh.
Dengan selesainya relokasi ini, risiko pemadaman total akibat kerusakan infrastruktur transmisi oleh bencana longsor di jalur Bireuen-Takengon dapat diminimalisir secara signifikan. Hal ini sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat dan pelaku usaha di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.